Yulita, 33 tahun, hanya berdiam di rumah. Ia tak pergi ke TPS (tempat pemungutan suara) untuk ikut pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Kota Pangkalpinang. Ia sejak pagi mengurung diri di rumahnya. Yulita dan Basri, suami istri ini tak bisa ikut mencoblos karena tak dapat kartu pemilih. Basri akhirnya memilih untuk pergi ke TI. “Ah saya dak tahu mau ke mana. Paling hanya menunggu kalau ada panggilan untuk nyoblos. Habis gimana mau ke TPS gak punya kartu pemilih,” tuturnya. Padahal menurut Yulita, ia dan suaminya memiliki KTP (Kartu Tanda Penduduk) Kelurahan Tuatunu Indah. (lagi…)

 

Zakaria alias Jack, 49 tahun, warga asal Lorong Darja, Palembang, untuk sementara waktu terpaksa menghentikan kegemarannya mengarungi lautan. Lelaki yang biasa memandang lautan lepas juga tidak akan bisa lagi melihat indah dan birunya laut. Dia kini terkungkung dalam ruangan dan statusnya pun kini berubah menjadi narapidana. (lagi…)

H Istakama, Tokoh Masyarakat Koba

Masyarakat Koba sudah tak respek lagi dengan kehadiran PT Koba Tin. Dalam perjalanannya, perusahaan yang saham 75% dimiliki Malaysia Smelting Corporation dan PT Timah sebesar 25%, dinilai telah masyarakat telah banyak menyalahi aturan dan juga sub kontrak yang berlaku. 

Menurut H Istakama, salah tokoh masyarakat Koba yang cukup vokal menyoroti keberadaan PT Koba Tin, mengatakan, manajeman Koba Tin sekarang ini kacau balau. Malah ada indikasi yang kuat, perusahaan yang dilindungi undang-undang penanaman modal asing ini, akan merekayasa agar dinyatakan pailit oleh pengadilan. “Indikasi ke arah itu sudah jelas dengan berkurangnya aset-aset yang dimiliki Koba Tin,” ujar Istakama.

(lagi…)

Suherman, Wakil Ketua Komisi A DPRD Bangka Tengah

Sementara itu, di tempat terpisah, ketika ditanyakan sekaitan tuntutan Gerakan Masyarakat Bangka Belitung Bersatu (GMBBB), Suherman, Wakil Ketua Komisi A DPRD Bangka Tengah, mengatakan, sejauh ini ia belum mengetahui kebenaran pelanggaran yang dilakukan oleh PT Koba Tin, seperti tuntutan yang disampaikan GMBBB. Namun demikian, selaku bagian dari masyarakat Bangka Tengah sangat mendukung keinginan Gubernur Eko Maulana Ali untuk membentuk tim investigasi yang akan diterjunkan langsung ke lapangan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat. (lagi…)

Puluhan angkutan kota jenis mikrolet berbaris di halaman gedung DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ratusan penumpangnya berhamburan dari angkot itu untuk mencari tempat berlindung. Tua muda berdesakan. Dan sebagian ibu-ibu terlihat menggendong anaknya. Panas matahari menyengat tajam, walau hari belum begitu siang. Keringat meleleh dari kening mereka. Mereka mau berdemo. Menyuarakan aspirasinya: menolak kehadiran sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertimahan: PT Koba Tin. (lagi…)

Museum memang selalu identik dengan suasana yang tenang. Para pengunjung biasanya berusaha untuk tidak membuat suara berisik di situ, karena ingin khusyuk melihat-lihat koleksi di museum. Begitu pula dengan Museum Timah Indonesia yang ada di Kota Pangkalpinang. Museum tersebut selalu terasa tenang dan damai, hanya saja ketenangan tersebut bukan dikarenakan pengunjung tidak membuat suara berisik, melainkan karena tidak ada seorang pengunjung pun yang datang. (lagi…)

Jaringan Mafia Ikan di TPI Pangkalbalam

Bagaimana menurut Anda kondisi nelayan saat ini?

Dari pengamatan saya selama ini, kondisi nelayan tidak pernah berubah, baik dari segi ekonomi maupun aspek sosial lainnya. Sementara kekayaan laut kita berlimpah dan hasil tangkapan mereka cukup bagus. Jika dibandingkan dengan nelayan negara lain, nelayan kita bisa dikatakan sangat miskin. (lagi…)

Penghasilan Nelayan Meningkat Setap Tahun

Bisa digambarkan pola dan distribusi ikan tangkapan nelayan di Bangka?

Ada tiga pola dalam mendistribusikan hasil tangkapan nelayan. Pertama, nelayan yang baru pulang melaut langsung menjual hasil tangkapannya di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Di TPI, konsumennya adalah para pedagang pengumpul maupun sentra-sentra nelayan. Kedua, nelayan menjual hasil tangkapannya melalui pedagang pengumpul. Setelah itu, pedagang pengumpul mengadakan lelang langsung di mana pembelinya sentra nelayan yang berjumlah 41 sentra atau diekspor ke luar daerah. Dan ketiga, nelayan menjual hasil tangkapannya melalui pedagang pengumpul dan pedagang pengumpul langsung menjual ikan yang dibeli dari nelayan tadi ke pasar ikan tanpa dijual ke sentra nelayan atau diekspor. (lagi…)

“Tengkulak Sangat Membantu Masyarakat”

Bisa digambarkan bagaimana kehidupan nelayan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ?

Kehidupan nelayan di Bangka Belitung sudah meningkat hal ini terbukti dari rumah-rumah nelayan yang berada di desa-desa sudah permanen dengan pasilitas TV berwarna di rumahnya, serta dapat diperkirakan penghasilan nelayan sekali melaut sekitar Rp40-50 ribu. (lagi…)

Tengkulak atau ijon punya kisah yang “unik” dengan nelayan tradisi. Di di PPI Pangkalbalam puluhan tengkulak setiap hari melakukan “transaksi” dengan nelayan. Hubungan nelayan dengan tengkulak berbentuk mutualisme: Saling menguntungkan kedua pihak. (lagi…)

Halaman Berikutnya »