lada.jpgHarga komoditas lada dunia (White/Black Pepper) dalam beberapa waktu terakhir terus bergerak naik keharga tertinggi yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Teori ekonomi menyebutkan penawaran lebih rendah dari permintaan, mengakibatkan harga naik. Kondisi itulah yang terjadi di pasar perladaan dunia. Pelaku perladaan dunia mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan pasokan. Alternatif yang mungkin dilakukan adalah dengan melakukan pembatasan kuota.

Menurut Direktur Eksekutif Masyarakat Perladaan Internasional (International Pepper Community/IPC) Dede Kusuma Edi Idris, di Pangkalpinang, kenaikan harga diakibatkan merosotnya hasil produksi dinegara produsen lada dunia seperti Vietnam dan Indonesia.

“Faktor pemicunya adalah maraknya serangan hama baik yang menyerang buah, batang maupun akar, hingga hasil panen petani merosot tajam,” ujarnya.

Harga lada hitam pada posisi Juni 2007 sebesar 3.856 dolar AS permetrik ton berdasarkan harga rata-rata masing-masing pasar negara anggota.

Untuk lada putih harga pada Juni 2007 mencapai 5.158 US dolar permetirk ton, padahal pada akhir tahun 2006 lalu, harganya masih 1.995 dolar AS permetrik ton.

Harga lada yang sangat prospektif bagi petani dan negara produsen lada itu telah menimbulkan kesadaran mereka betapa perlunya pasokan lada ke pasaran disesuaikan dengan kebutuhan.

Kalau sebelumnya petani berlomba-lomba menanam lada, sementara pemerintah menciptakan iklim kondusif bagi pertumbuhan usaha itu, sekarang pelaku perladaan menyadari pentingnya pembatasan produksi.

Kesadaran itulah yang akhirnya menggugah negara produsen mulai membahas pembatasan produksi lada yang tertuang dalam bentuk “Supplement Agreement Shift”.

Kebijakan itu mulai dibahas pada pertemuan anggota IPC di Jakarta April 2007 lalu dan pembahasan lebih lanjut dilakukan di Kuala Lumpur Malaysia pada Nopember 2007.

Kebutuhan lada dunia diperkirakan mendekati seratusan ribu ton pertahun.

Sejalan dengan kebutuhan umat manusia, permintaan lada hitam maupun putih akan terus meningkat. Lada selain digunakan untuk rempah-rempah juga menjadi bahan baku pembuatan parfum.

Dari lada yang diolah menjadi minyak bisa digunakan sebagai bahan pembuatan berbagai bahan kosmetik.

Anggota IPC masih terus membahas kebutuhan dan pasokan. Anggota menginginkan harga semakin tinggi hingga terjadi perbaikan kesejahteraan anggota IPC.

IPC sendiri beranggotakan negara-negara produsen lada dunia seperti Indonesia, Brazil, Malaysia, Vietnam, Srilanka sebagai anggota penuh. Propinsi Hainan China dan Papua New Guinea merupakan anggota asosiasi baru.

Belum bergairah

Kenaikan harga dipasaran dunia ternyata belum mampu menumbuhkan gairah petani bertanam lada secara signifikan.

Ditingkat petani, pedagang pengumpul membeli seharga Rp 41 ribu perkilogram, jauh meningkat dibanding dengan kondisi awal Januari 2007 lalu sebesar Rp 27 ribu per kg.

Kepala Sub Dinas Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Chatamarrasyid, mengatakan, petani lada di Bangka Belitung sebagai penghasil lebih dari 80 persen lada di Indonesia sebenarnya paling diuntungkan dengan makin membaiknya harga.

Sayangnya realitas di lapangan berbicara lain. Luas areal penanaman lada terus berkurang dari 40 ribu hektar pada 1998 sekarang menjadi 18 ribu hektar saja. Bahkan produktivitas perhektarenya turun dari 1,1 ton menjadi 0,9 ton.

Bertanam lada, memberikan margin keuntungan yang memadai. Didasarkan hasil penelitian terhadap keekonomian bertanam lada, pada kisaran harga Rp 25 ribu per kg saja petani sudah mendapatkan keuntungan.

“Titik balik modal ada pada kisaran harga Rp19.400/kg, dengan asumsi produksi per hektarnya 1,1 ton. Sangat disayangkan kadang petani masih membandingkan harga lada pada saat kejayaan tahun 1998 yang mencapai Rp70 ribu/kg,” ujarnya.

Seorang petani lada di Desa Air Mesu Pangkalan Baru Bangka Tengah, A Can (40), mengatakan, bertanam lada bisa memberikan penghasilan memadai, apalagi bila tanaman dirawat dan diberi pupuk, hingga produksinya setiap rumpun mencapai 2,5 kg.

Hanya saja akibat harga lada berfluktuasi bahkan pernah di bawah Rp 20 ribu per kg, mengakibatkan petani lada enggan merawat tanamannya dan bahkan mengalihkan sebagaian lahan pertanian untuk dijadikan tambang timah.

“Di sekitar Air Mesu saja ada belasan kebun lada yang dialih fungsikan menjadi tambang timah. Bila dibandingkan hasil mencari bijih timah memberikan keuntungan besar dan harganya terus meningkat,” ujar A Can pemilik 3.000 meter persegi kebun lada itu.

Bertanam lada membutuhkan biaya cukup mahal mulai dari bibit, tanaman penyanggah hingga pemupukan dan perawatan. Disisi lain tanaman itu rentan terhadap penyakit yang sulit diobati.

A Can mengaku tetap menggeluti tanaman lada, sebagai bentuk kebanggaannya atas kualitas dan harumnya nama lada Bangka (White pepper Muntok) yang terkenal ke seantero dunia, mengalahkan kualitas lada dibagian dunia manapun.

“Lada di sini aromanya khas dan disukai orang-orang di Eropa, sementara kepedasannya tiga kali lebih kuat dibanding lada dari negara lain seperti Vietnam dan Brasil,” ujarnya.

Kerugian Besar

Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Dr. Dyah Manohara, di Pangkalpinang, mengatakan, kerugian petani lada akibat serangan hama setiap tahun terus meningkat dan pada 2006 saja nilainya mencapai Rp 6 Milyar.

Penyakit yang menyerang tanaman lada adalah penyakit busuk pada batang (Phytopthora Capsicl) disebabkan hama penggerek batang, sementara kerdil batang dan buah disebabkan hama buah (Cerafu Devoash) dan penyakit kuning oleh Virus CMV/PYMV.

Di Indonesia setiap tahun ribuan hektar tanaman lada mati terserang penyakit. Lahan bekas serangan hama itu selanjutnya tidak lagi bisa digunakan.

Kerugian akibat penyakit yang menyerang lada terus meningkat. Kalau tahun sebelumnya kerugian masih dibawah Rp5 Milyar sekarang areal yang terserang penyakit makin meluas.

Ganasnya serangan penyakit menyebabkan petani lada jadi frustasi. Bahkan Vietnam yang dikenal sebagai produsen lada utama dunia, tidak berdaya menangani penyakit tersebut, hingga pasokan lada jauh dibawah kebutuhan.

Upaya mengatasi penyakit bisa dilakukan dengan menggunakan bibit lada varietas tertentu. Hanya saja menurut Dyah tidak ada satu varietaspun yang kebal terhadap penyakit itu.

Upaya lain yang dilakukan adalah dengan merawat tanaman misalnya membuat parit sekeliling tanaman, membiarkan rumput tumbuh disekitar tanaman dan melakukan penyemprotan.

“Ada petani yang membersihkan lahan di sekitar tanaman lada hingga hama lebih cepat merusak tanaman. Yang perlu bersih hanya di seputar akar tanaman saja,” ujarnya.

Pengobatan terhadap tanaman yang terserang penyakit bisa dilakukan dengan pestisida tertentu. Tapi yang perlu diingat adalah mengenali dahulu jenis penyakit pada lada agar pengobatannya bisa optimal dan tepat.

Di Indonesia penyakit pada lada itu banyak menyerang kebun petani di pulau Bangka, Lampung Timur dan Kalimantan.

Kenaikan harga lada dunia, menurut Dyah, harus dijadikan momentum dalam mengembalikan kejayaan Bangka Belitung sebagai produsen lada terbesar dunia.

Upaya ke arah itu sudah dilakukan misalnya dengan memberikan petani bibit tanaman lada, insentif dan meningkatkan pengetahuan petani tata cara bertanam lada yang benar hingga memberikan margin keuntungan besar

Pasar bagi lada asal Bangka Belitung sudah terbentuk luas di Eropa dan Amerika. Lada asal daerah itu dengan segala kelebihannya selalu ditunggu di pasaran.

“Kalaupun sebenarnya terjadi kelebihan pasok, produk lada asal Bangka Belitung tidak akan jenuh beli kepedasan dan aromanya tidak tersaingi oleh hasil lada negara lain,” ujarnya. (*)