OLEH Mammaqdudah
SUASANA di dalam Masjid Jamik Pangkalpinang, usai salat dzuhur selama bulan suci Ramadan, adalah gambaran nyata banyaknya warga yang menghabiskan waktunya menunggu bedug magrib berbunyi.
Masjid Jamik yang terletak di tengah Kota Pangkalpinang ini memang menjadi tempat singgah para musafir atau para pekerja kantoran untuk melaksanakan salat dzuhur. Di bulan Ramadan suasana pun semakin ramai dengan para jamaah. Selain untuk beribadah, biasanya di antara mereka menggunakannya sebagai tempat melepas lelah.
Sebagai masjid tertua di Pangkalpinang, gaung Ramadan di masjid ini begitu kental. Setiap datang waktu salat, masjid selalu dipenuhi jemaah. Usai menunaikan ibadah wajib ini, banyak warga yang tidak langsung pulang atau kembali melakukan rutinitas pekerjaannya. Mereka ada yang membaca Alquran, diskusi tentang keagaam dan ada juga yang tidur-tiduran di bagian pojok masjid.
Saat berbuka puasa, masjid ini dipenuhi warga kota karena selain ingin mendapatkan tempat yang nyaman dan berkah untuk menunaikan salat magrib. Di masjid ini juga disiapkan tajil (menu berbuka). Kondisi yang sama juga terlihat saat salat tarawih diadakan. Mesjid dipenuhi jamaah.
Meski setiap hari, tidak hanya selama Ramadan, banyak kegiatan keagamaan yang diadakan, tapi sedikit warga yang mengetahui sejarah masjid ini.
Masjid Jamik pertama kali dibangun pada tanggal 3 Syawal 1355 Hijriah, atau pada tanggal 18 Desember 1936 Masehi. Data itu tertulis di atas meja yang terbuat dari batu marmar putih yang terletak di depan masjid. Dan bentuknya pun bukan seperti sekarang ini. Keadaan masjid saat itu masih menggunakan dinding papan, berlantai semen dan beratap genteng. Posisinya dulu terletak sekitar tempat wuduk dan menara masjid saat ini.
Dilihat dari atas seperti piramida dengan bentuk bangunan bertingkat tiga. Lantai pertama digunakan untuk tempat ibadah: pengajian dan salat berjamaah dengan kapasitas sekitar 600 jemaah. Sementara lantai kedua untuk menyimpan kitab-kitab, buku-buku agama, tikar dan alat perlengkapan masjid lainnya dan lantai atas digunakan untuk mengumandangkan azan. Masjid Jamik ini dibangun di atas tanah wakaf dengan sebelah utara terdapat rawa-rawa dan banyak terdapat pohon rumbia.
Perombakan Pertama
Pada hari Ahad, 12 November 1950 menjelang Magrib diundanglah tokoh agama, tokoh masyarakat, pengusaha dan pejabat pemerintah untuk bermusyawarah. Hasilnya, dibentuklah kepanitiaan pembangunan masjid dengan ketua KH. Mas’ud Nur, yang saat itu sebagai penghulu Pangkalpinang. Selain itu, nama-nama dari kepanitiaan adalah H. Abdullah Addary, H. M Ali Mustofa, H. Mochtar Jasin, H. Masdar, H Hasim, H. Idris. H Goni, Fattahullah dan yang lainnya. “Kurang lebih ada 20 anggota kepanitian perombakan saat itu,” kata Fattahullah (73), pengawas pembangunan masjid yang saat berusia 17 tahun.
Biaya yang dianggarkan untuk pembangunan Masjid Jamik sebesar Rp1,2 juta. Untuk menutupi kekurangan dana, kepanitian mengedarkan amplop yang bergambar Masjid Jamik dan diedarkan ke kampung-kampung. Namun, sebelum memberikan amplop, panitia memberikan ceramah agama dan mengutarakan maksud kepada masyarakat kampung, tujuan melakukan pengumpulan dana itu.
Kampung-kampung yang dituju untuk pengumpulan dana dibedakan menjadi Bangka Barat yang di dalamnya ada Kampung Kemuja, Petaling, Air Duren, sampai ke Muntok. Bangka Selatan yang di antaranya Koba, Nibung, Payung, Permis dan Bangka Utara seperti Baturusa, Sungailiat, hingga Belinyu. Bahkan Wakil Presiden Mohammad Hatta sempat menyumbang sebesar Rp1.000 untuk pembangunan masjid ini.
Sebelum melakukan pembangunan, kata Fattahullah, dilakukan penimbunan kolong di dekat Sungai Rangkui yang dalamnya sekitar 10 meter dengan panjang sekitar 37 meter. Untuk menimbun kolong ini dilakukan dengan gotong royong dengan melibatkan unsur sipil dan militer.
Menurut catatan dari buku Risalah Pembangunan Mesjid Jami’ disebutkan PT Timah yang saat itu bernama perusahaan TTB, setiap minggu mengerahkan mobilnya untuk mengangkut pasir dan batu-batu. Bahkan ibu-ibu, di lokasi kolong Tambang 6 turut mencari batu-batu kerikil untuk menimbun rawa-rawa. Akhirnya, rawa-rawa sedalam 10 meter itu dapat ditimbun.
Selesai penimbunan dilakukanlah pembangunan masjid dengan panjang dan lebar 30 x 30 meter dengan tinggi menara sekitar 18 meter. Namun, karena kekurangan dana, pembangunan masjid terpaksa dihentikan sementara. Susunan kepanitiaan pun berubah sebab ada yang mengundurkan diri. Namun, ketua panitia masih dipegang oleh H. Mas’ud Nur. Anggaran dana semula Rp1,2 juta berubah menjadi Rp 1,5 juta. Jumlah ini bertambah karena harus disesuaikan dengan harga bahan dan upah pekerja.
Membuat kubah dipercayakan kepada Firma Khu Khian Lan Pangkalpinang, pengerjaan pintu, kusen dan pengecatan oleh Biro Aksi. Sementara untuk menara yang awalnya 18 meter diubah menjadi 23 meter. Akhirnya pada tanggal 3 Juni 1961 sekitar pukul 09.00 WIB oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Bangka, Masjid Jamik Pangkalpinang diresmikan.
Ketua panitia, KH. Mas’ud Nur beberapa bulan setelah peresmian masjid, yang tepatnya tanggal 10 November 1961, pada hari Jumat menjelang Subuh yang saat itu bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November berpulang ke Rahmatullah dengan tenang pada usia 51 tahun.
Bedug Terbesar
Masjid dengan arsitektur unik dengan empat tiang penyanggah yang terdapat di dalam masjid semakin menambah keindahan masjid. Dengan halaman yang cukup luas, pada musim haji, biasanya masjid ini digunakan pejabat untuk melepas para jamaah haji. Keindahan masjid ini semakin lengkap dengan ditempatkannya satu bedug terbesar yang ada di Pangkalpinang. Bedug ini merupakan sumbangan Mantan Kapolda Babel, Brigjen Polisi Erwin TPL Tobing yang saat masih berpangkat Komisaris Besar Polisi.
Tak lama lagi masjid yang kini diketuai oleh H. Usman Zuhri ini dalam waktu dekat akan direhab kembali untuk menambah keindahannya sehingga mesjid ini tidak hanya menjadi kebanggaan warga Pangkalpinang tapi kebanggaan masyarakat Provinsi Bangka Belitung. “”Menunggu perubahan APBD Provinsi,” kata Usman Zuhri saat dimintai tanggapannya kapan pelaksanaan pembangunan masjid ini, Jumat (14/9) usai salat Jumat di Masjid Jamik.*
September 9, 2008 at 2:29 pm
[...] Sumber:Â Metro Bangka Belitung [...]