April 2008


Museum memang selalu identik dengan suasana yang tenang. Para pengunjung biasanya berusaha untuk tidak membuat suara berisik di situ, karena ingin khusyuk melihat-lihat koleksi di museum. Begitu pula dengan Museum Timah Indonesia yang ada di Kota Pangkalpinang. Museum tersebut selalu terasa tenang dan damai, hanya saja ketenangan tersebut bukan dikarenakan pengunjung tidak membuat suara berisik, melainkan karena tidak ada seorang pengunjung pun yang datang. (lagi…)

Jaringan Mafia Ikan di TPI Pangkalbalam

Bagaimana menurut Anda kondisi nelayan saat ini?

Dari pengamatan saya selama ini, kondisi nelayan tidak pernah berubah, baik dari segi ekonomi maupun aspek sosial lainnya. Sementara kekayaan laut kita berlimpah dan hasil tangkapan mereka cukup bagus. Jika dibandingkan dengan nelayan negara lain, nelayan kita bisa dikatakan sangat miskin. (lagi…)

Penghasilan Nelayan Meningkat Setap Tahun

Bisa digambarkan pola dan distribusi ikan tangkapan nelayan di Bangka?

Ada tiga pola dalam mendistribusikan hasil tangkapan nelayan. Pertama, nelayan yang baru pulang melaut langsung menjual hasil tangkapannya di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Di TPI, konsumennya adalah para pedagang pengumpul maupun sentra-sentra nelayan. Kedua, nelayan menjual hasil tangkapannya melalui pedagang pengumpul. Setelah itu, pedagang pengumpul mengadakan lelang langsung di mana pembelinya sentra nelayan yang berjumlah 41 sentra atau diekspor ke luar daerah. Dan ketiga, nelayan menjual hasil tangkapannya melalui pedagang pengumpul dan pedagang pengumpul langsung menjual ikan yang dibeli dari nelayan tadi ke pasar ikan tanpa dijual ke sentra nelayan atau diekspor. (lagi…)

“Tengkulak Sangat Membantu Masyarakat”

Bisa digambarkan bagaimana kehidupan nelayan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ?

Kehidupan nelayan di Bangka Belitung sudah meningkat hal ini terbukti dari rumah-rumah nelayan yang berada di desa-desa sudah permanen dengan pasilitas TV berwarna di rumahnya, serta dapat diperkirakan penghasilan nelayan sekali melaut sekitar Rp40-50 ribu. (lagi…)

Tengkulak atau ijon punya kisah yang “unik” dengan nelayan tradisi. Di di PPI Pangkalbalam puluhan tengkulak setiap hari melakukan “transaksi” dengan nelayan. Hubungan nelayan dengan tengkulak berbentuk mutualisme: Saling menguntungkan kedua pihak. (lagi…)

Kemesraan yang Tak Boleh Berlalu

“Cuaca kurang bagus untuk melaut,” kata Kasmidi (40), salah seorang nelayan Sungailiat kepada Metro Bangka Belitung. Sebulan terakhir cuaca memang sangat buruk. Angin kencang ditambah dengan gelombang tinggi memaksa nelayan memarkir perahunya. (lagi…)

Hidup Dililit Tengkulak

Sebulan terakhir, nelayan di Bangka Belitung dan juga daerah-daerah lainnya di Indonesia tak bisa melaut. Cuaca yang tak bersabahat, membuat mereka—untuk sementara—menambatkan perahunya. Sebagian ada yang memperbaiki perahunya, dan ada pula—untuk nelayan di Bangka Belitung—beralih menjadi buruh Tambang Inkonvensional (TI). Sebagian lagi tetap bertahan dengan memanfaatkan tabungan yang tersisa. (lagi…)

Kami Akan Laporkan Pejabat yang Terlibat

Bagaimana bisa hadir di sini?

Saya memenuhi undangan dari pihak Pemerintah Kabupaten Bangka dan Pemerintahan Desa Air Anyer,  maka hari ini kami diajak untuk mengecek lokasi tanah tersebut.

Apakah ganti rugi tanah tersebut  akan dibayar oleh PT Bangka Power?

Pada pertemuan tanggal 2 April kemarin, pihak  PT Bangka Power melalui Ansori selaku Direktur Bangka Power berjanji, apabila dari 123,14 hektare milik PLTU yang di-HGB-kan terdapat lahan yang belum diselesaikan ganti ruginya kepada masyarakat, maka PT Bangka Power siap membayar ganti rugi tanah tersebut.   (lagi…)

PT Bangka Power Berjanji Bangun Masjid

 

Apa tujuan pertemuan ini? Dan siapa yang memfasilitasinya?

Tujuannya sesuai dengan hasil pertemuan sebelumnya, yaitu untuk membuktikan kebenaran keberadaan tanah sesuai dengan yang tertera dalam surat tanah tersebut. Kita turun ke lapangan bersama dengan pemilik tanah. Sedangkan yang memfasilitasi pertemuan ini adalah Pemerintah Kabupaten Bangka dam Pemerintah Desa Air Anyer karena lokasi tersebut berada di Desa Air Anyer. (lagi…)

Pertemuan Tak Ada Ujung

 

Siang itu, Selasa, 8 April 2008, panas matahari menyengat ubun-ubun puluhan orang yang datang ke lokasi itu. Tak ada pohon yang rindang untuk dijadikan tempat berteduh. Tandus. Rerumputan dan ilalang terbentang luas. Sebagian meranggas dibakar matahari. Di situlah direncanakan akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) oleh PT Bangka Power. Tapi, kini, tanah yang tandus itu sedang bersengketa dan diperkarakan.

Pasalnya, di areal seluas 123 hektare lebih itu, yang sekarang sudah menjadi milik PT Bangka Power, masih menyimpan segudang masalah. Sekitar 8 hektare tanah masyarakat dihibahkan oleh H A Rahman HR, Kepala Desa Air Anyer, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, tanpa diketahui pemiliknya. Kini pemilik tanah itu menuntut dan menyomasi Rahman dan PT Bangka Power agar memberikan ganti rugi. (lagi…)

Halaman Berikutnya »