Metro Budaya


OLEH Mammaqdudah

crim0004.jpgSUASANA di dalam Masjid Jamik Pangkalpinang, usai salat  dzuhur selama bulan suci Ramadan, adalah gambaran nyata banyaknya warga yang menghabiskan waktunya menunggu bedug magrib berbunyi. (lagi…)

OLEH Bangtjik Kamaluddin

Legenda mengisahkan, ada sebuah kapal besar dihantam  amukan badai, akhirnya kandas. Badan kapal yang kandas ini kemudian menjelma menjadi Pulau Bangka, sedangkan tiang-tiang kapal berubah menjadi gunungnya. Di kisahkan pula ada sebuah kapal penyelamatnya hanyut ke arah Timur kemudian kandas, selanjutnya berubah  menjadi Pulau Belitung. (lagi…)

OLEH Bangtjik Kamaluddin

dsc_2648.jpgSeorang laki-laki bersorban membacakan doa yang di depannya terdapat kendi yang berisi air. Sementara lima laki-laki dengan mengenakan kain hijau, merah, kuning, hitam dan kelabu berdiri di belakangnya. Setelah itu, air yang di dalam kendi disiram kepada warga. (lagi…)

Mengangkat Kayu yang Terendam

budaya1.jpgHUJAN rintik-rintik mengguyur Kota Pangkalpinang dipenghujung bulan Juli lalu. Malam itu cuca dingin. Namun daun pintu rumah Ibnu Hajar yang terletak di Jalan Balai Pangkalpinang masih saja terbuka. Dari kejauhan nampak bapak berumur 57 tahun itu mengenakan kopiah resam dengan sarung bercorak merah hitam duduk di atas kursi.

Senyumannya yang khas mempersilahkan wartawan Metro Bangka Belitung untuk masuk ke dalam rumah. ā€Alhamdulllah sehat,ā€ katanya saat ditanya tentang kabarnya.

Ibu Hajar adalah salah satu seniman yang ada di Kota Pangkalpinang. Walau usianya yang terbilang tua, namun sampai kini tidak ada kata lelah baginya untuk berkesenian. Setiap hari ada saja hal yang dilakukannya berkaitan dengan proses kreatif dalam upaya menggali dan mengembangkan budaya dan kesenian daerah leluhurnya, Bangka. (lagi…)

Catatan Pementasan Datuk Layau
Oleh Nasrul Azwar, pencinta seni
Pementasan Datuk Layau (FotoĀ Metro)Tafsir terhadap teks telah menjadi wilayah kuasa sutradara teater yang paling absolut. Pada wilayah teks budaya yang maha luas itu, sutradara merambah belantara ikon, simbol budaya, dan penanda sosial lainnya untuk diwujudkan dalam estimasi ruang dan waktu dalam satu frame panggung dengan pertanggungjawaban kreatif sutradara.
Tafsir yang direpsentasikan dengan sebutan pementasan teater kerap memiliki kecenderungan pengaktualisasian tematik dengan kondisi kekinian. Teks budaya (tradisi) yang mendasarinya menjadi pijakan dan landasan kreatif sutradara untuk merentangkan sebuah ā€œhistoriografiā€ perjalanan masa, katakanlah, semenjak munculnya sebuah cerita dengan tradisi oral hingga ke tradisi tulis pada saat sekarang. Masa atau zaman yang panjang itu—terlihat mencengangkan—dapat dimanpatkan dalam satu kerangka panggung dengan durasi cerita yang singkat oleh sutradara teater. Nyaris semua kelompok teater yang ada di Indonesia tak lepas dari pola dan tafsir seperti itu. (lagi…)