OLEH Mammaqdudah
SUASANA di dalam Masjid Jamik Pangkalpinang, usai salat dzuhur selama bulan suci Ramadan, adalah gambaran nyata banyaknya warga yang menghabiskan waktunya menunggu bedug magrib berbunyi. (lagi…)
Januari 15, 2008
OLEH Mammaqdudah
SUASANA di dalam Masjid Jamik Pangkalpinang, usai salat dzuhur selama bulan suci Ramadan, adalah gambaran nyata banyaknya warga yang menghabiskan waktunya menunggu bedug magrib berbunyi. (lagi…)
Januari 15, 2008
OLEH Bangtjik Kamaluddin
Legenda mengisahkan, ada sebuah kapal besar dihantam amukan badai, akhirnya kandas. Badan kapal yang kandas ini kemudian menjelma menjadi Pulau Bangka, sedangkan tiang-tiang kapal berubah menjadi gunungnya. Di kisahkan pula ada sebuah kapal penyelamatnya hanyut ke arah Timur kemudian kandas, selanjutnya berubah menjadi Pulau Belitung. (lagi…)
Januari 15, 2008
OLEH Bangtjik Kamaluddin
Seorang laki-laki bersorban membacakan doa yang di depannya terdapat kendi yang berisi air. Sementara lima laki-laki dengan mengenakan kain hijau, merah, kuning, hitam dan kelabu berdiri di belakangnya. Setelah itu, air yang di dalam kendi disiram kepada warga. (lagi…)
Januari 8, 2008
Mengangkat Kayu yang Terendam
HUJAN rintik-rintik mengguyur Kota Pangkalpinang dipenghujung bulan Juli lalu. Malam itu cuca dingin. Namun daun pintu rumah Ibnu Hajar yang terletak di Jalan Balai Pangkalpinang masih saja terbuka. Dari kejauhan nampak bapak berumur 57 tahun itu mengenakan kopiah resam dengan sarung bercorak merah hitam duduk di atas kursi.
Senyumannya yang khas mempersilahkan wartawan Metro Bangka Belitung untuk masuk ke dalam rumah. āAlhamdulllah sehat,ā katanya saat ditanya tentang kabarnya.
Ibu Hajar adalah salah satu seniman yang ada di Kota Pangkalpinang. Walau usianya yang terbilang tua, namun sampai kini tidak ada kata lelah baginya untuk berkesenian. Setiap hari ada saja hal yang dilakukannya berkaitan dengan proses kreatif dalam upaya menggali dan mengembangkan budaya dan kesenian daerah leluhurnya, Bangka. (lagi…)
Januari 7, 2008
Catatan Pementasan Datuk Layau
Oleh Nasrul Azwar, pencinta seni
Tafsir terhadap teks telah menjadi wilayah kuasa sutradara teater yang paling absolut. Pada wilayah teks budaya yang maha luas itu, sutradara merambah belantara ikon, simbol budaya, dan penanda sosial lainnya untuk diwujudkan dalam estimasi ruang dan waktu dalam satu frame panggung dengan pertanggungjawaban kreatif sutradara.
Tafsir yang direpsentasikan dengan sebutan pementasan teater kerap memiliki kecenderungan pengaktualisasian tematik dengan kondisi kekinian. Teks budaya (tradisi) yang mendasarinya menjadi pijakan dan landasan kreatif sutradara untuk merentangkan sebuah āhistoriografiā perjalanan masa, katakanlah, semenjak munculnya sebuah cerita dengan tradisi oral hingga ke tradisi tulis pada saat sekarang. Masa atau zaman yang panjang ituāterlihat mencengangkanādapat dimanpatkan dalam satu kerangka panggung dengan durasi cerita yang singkat oleh sutradara teater. Nyaris semua kelompok teater yang ada di Indonesia tak lepas dari pola dan tafsir seperti itu. (lagi…)